Secang Herbal Trails Menelusuri Budaya Kebugaran Di Banyuwangi
Secang Herbal Trails lahir dari keyakinan sederhana: alam, pengetahuan lokal, dan kehidupan warga bisa bertemu dalam satu perjalanan bermakna. Di sepanjang rute ini, kita berjalan melintasi desa dan hutan serta mengenal cerita-cerita yang tumbuh bersama masyarakat Secang, Kalipuro.
Perjalanan dimulai di Markas Ekoliterasi Merdeka (MEM) Secang, ruang belajar yang tumbuh dari semangat merawat alam dan pengetahuan lokal. Disini peserta disambut dengan sajian kudapan khas warga yakni olahan singkong dengan tepung yang dikukus menggunakan ekstrak tanaman secang, dan berkuah santan sebagai asupan energi di pagi hari sebelum beraktifitas. Kemudian peserta berkumpul, melakukan briefing, pemanasan, dan pengecekan kondisi awal tubuh melalui pengukuran denyut nadi sebelum trekking dimulai.
Di sekitar MEM, peserta mengenal berbagai tanaman herbal yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat. Dari sinilah rute trekking pertama dimulai untuk memahami kehidupan warga sehari-hari.
Perjalanan berlanjut menuju Debog Osing, tempat dimana pelepah pisang mendapat kehidupan baru. Peserta melihat hasil kerajinan, mengenal bahan bakunya, serta mendengarkan cerita tentang proses pembuatannya. Bahan baku sederhana yang sering terabaikan ternyata menyimpan nilai kreativitas dan ekonomi bagi masyarakat. Kedepan, pengalaman ini akan berkembang menjadi aktivitas kreatif sederhana, agar setiap peserta dapat ikut mencoba sebagian kecil prosesnya, sebagai bagian dari pengalaman wisata berbasis masyarakat. Di titik ini peserta juga kembali melakukan pengukuran denyut nadi, melihat bagaimana tubuh mulai beradaptasi usai jeda berjalan kaki.
Perjalanan berlanjut untuk kemudian singgah di Griya Lebah. Di antara kotak-kotak tempat lebah bekerja tanpa henti, peserta diajak mengenal cara budidaya madu, melihat kehidupan koloni lebah dari dekat, dan memahami bagaimana madu dipanen. Rute trekking pertama ditutup dengan kembali ke MEM Secang. Saat tubuh mulai terasa hangat setelah berjalan, peserta beristirahat, menikmati makan siang, menjalankan ibadah, lalu kembali melakukan pengukuran kondisi tubuh.
Perjalanan pagi selesai. Namun pengalaman belum berakhir. Perjalanan siang dimulai dengan kendaraan menuju spot Kopi Lego, titik transit menuju lanskap hutan pinus. Saat ini Kopi Lego menjadi titik keberangkatan menuju rute trekking kedua. Kedepan, spot ini akan berkembang sebagai ruang mengenal kopi melalui kunjungan ke kebun, melihat hasil green bean paska panen, mencoba seduh manual dengan berbagai alat manual brewing, dan cupping/mencicip cita rasa kopi lokal. Sebagai catatan: kafein merupakan salah satu senyawa yang banyak diteliti dalam olahraga, dan pada konsumsi tertentu sebelum aktivitas fisik, dapat membantu menunjang performa terutama pada aktivitas daya tahan.
Dari aroma kopi, perjalanan trekking berganti menuju aroma hutan. Di jalur pinus peserta diajak menikmati pengalaman forest bathing (shinrin-yoku), yakni cara sederhana menikmati suasana hutan melalui udara, cahaya, suara dedaunan, dan aroma alami yang dilepaskan vegetasi pinus, termasuk senyawa volatil tumbuhan yang dikenal sebagai fitonsida (phytoncides). Penelitian menunjukkan pengalaman berada di lingkungan hutan dapat memberikan manfaat bagi relaksasi dan kesejahteraan, meski manfaat tersebut merupakan hasil dari keseluruhan pengalaman berada di alam, bukan dari satu zat saja.
Dari hutan pinus, perjalanan jalan kaki berlanjut kembali ke Debog Osing sebagai titik jemput, sebelum kendaraan membawa peserta kembali ke MEM Secang sebagai akhir perjalanan.
#SecangHerbalTrails #BumiBlambangan #Banyuwangi #Kalipuro #WisataBerbasisMasyarakat #CommunityBasedTourism #WisataLokal #TrekkingBanyuwangi #Ekoliterasi #HerbalTrail #ForestBathing #WisataAlam #PemberdayaanMasyarakat
Rute trekking diatas dapat juga dimodifikasi dengan jalur start MEM Secang, kemudian spot Debog Osing, spot Griya Lebah sekaligus makan siang dan beribadah, selanjutnya pengantaran menuju spot transit di Kopi Lego. Setelah itu trekking menuju hutan pinus dan penjemputan menggunakan kendaraan roda 4 (pick up) di pemukiman sekitar hutan untuk kembali ke MEM Secang. Total panjang rute trekking sekitar 7 km. Dengan durasi susur rute berjalan kaki normal, konten edukasi tiap spot, rehat dan makan siang sekitar 6 jam.
Kedepannya agar berbeda dengan wisata trekking biasa, juga bisa diberikan gimmic yang menyenangkan kepada peserta berupa Paspor Trail Secang. Peserta mendapat kartu kecil yang distempel di setiap spot (MEM, Debog Osing, Griya Lebah, Kopi Lego, Hutan Pinus). Selain jadi suvenir, setiap stempel mengingatkan bahwa peserta sedang mengumpulkan pengalaman, bukan sekadar menyelesaikan rute. Harapannya ini selaras dengan konsep ekoliterasi dan pemberdayaan warga yang sedang dibangun.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari DRPM UB (Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Brawijaya) berkolaborasi dengan MEM (Markas Ekoliterasi Merdeka) Secang dan DPC HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Banyuwangi untuk selanjutnya dikembangkan sebagai bentuk wellness tourism dan dikelola oleh masyarakat di sekitar kawasan lereng gunung Merapi Ungup-Ungup pada khususnya di selingkar lingkup Kelurahan Kalipuro dan Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Ingin tahu lebih jauh keseharian warga pedesaan Banyuwangi dalam menjaga kearifan tradisional, budaya dan tradisi di tempat-tempat lainnya? Serta lokasi yang bisa dijadikan kawasan untuk studi tiru, penelitian beragam obyek dengan berbagai topik, lokasi program pendampingan masyarakat dan pengembangan potensi lokal? Maupun mencoba metode experiential learning dalam kemasan experiential tourism dan village tour? Kontak kami untuk konsultasi dan diskusi.
Hubungi Admin
081808897014