Lewati ke konten
Jalanin Aja

Mapping Biodiversitas: 4,18 kilometer, 19 tumbuhan, dan satu pematang sawah

Master · 25 Agustus 2026 · 3 menit baca

Jalan kaki empat kilometer itu sebenarnya tidak jauh. Yang bikin lama adalah berhenti terus.

Minggu pagi, 23 Agustus, rombongan berangkat menyusuri jalur yang belakangan dinamai Mapping Biodiversitas. Rencananya sederhana. Jalan pelan-pelan, kenali apa saja yang tumbuh di kiri kanan jalan, lalu catat saat itu juga. Bukan diingat-ingat dulu baru ditulis di rumah, karena biasanya begitu sampai rumah yang teringat tinggal separuh.

Rombongan peserta Jalanin Aja berfoto bersama di bawah deretan saung beratap seng
Belasan orang berangkat pagi itu. Foto diambil sebelum jalan dimulai.

Jaraknya

Totalnya 4.181 meter dengan tanjakan 122 meter. Jalur pedesaan yang naik turun tipis, bukan pendakian. Sepanjang jalan itu rombongan berhenti dua puluh lima kali untuk mencatat sesuatu, jadi rata-rata belum sampai dua ratus meter sudah berhenti lagi. Itu yang bikin empat kilometer terasa jauh lebih panjang daripada empat kilometer.

Yang dikenali

Sembilan belas tumbuhan masuk catatan hari itu. Bukan tanaman langka. Justru sebaliknya, hampir semuanya yang tiap hari dilewati orang tanpa pernah tahu namanya.

Ada yang biasa dipakai di dapur, seperti kunyit, lengkuas, kelor, belimbing wuluh, daun sirih, dan kenikir. Ada yang sengaja ditanam orang di pekarangan, seperti bunga kertas, pucuk merah, telang, hanjuang, bunga cardinal, dan zebra plant. Ada juga yang tumbuh sendiri di pinggir jalan tanpa ada yang menanam, seperti randu, rambusa, zinnia, dan jarak. Satu yang agak mengejutkan, sebatang kopi excelsa berdiri begitu saja di tepi jalur.

Dari sembilan belas itu, delapan aman tanpa catatan khusus, tujuh perlu perhatian ringan, tiga masuk kategori hati-hati, dan satu benar-benar berbahaya.

Yang satu itu

Jarak kepyar (Ricinus communis). Tumbuhnya biasa saja di lahan kosong, dan bijinya berbintik mirip kutu kacang, cukup menarik untuk dipungut anak kecil. Biji itu mengandung risin.

Tiga yang berstatus hati-hati juga bukan tanaman asing. Ada rambusa (Passiflora foetida), hanjuang (Cordyline fruticosa), dan sebatang pohon jarak.

Rambusa contoh yang bagus untuk menjelaskan kenapa pencatatannya perlu teliti. Buah matangnya memang dimakan orang. Buah mudanya dan daunnya cerita lain sama sekali.

Label “dapat dimakan” tidak pernah berarti seluruh bagiannya, kapan saja, dalam kondisi apa pun.

Makanya tingkat kewaspadaan di peta selalu ditulis pakai kata, bukan cuma dibedakan lewat warna. Ada orang yang tidak bisa membedakan warna, dan halaman itu bisa saja jadi dasar seseorang memutuskan memakan sesuatu yang dipetik di jalan.

Bukan cuma tanaman

Beberapa tempat ditandai bukan karena ada yang tumbuh di situ, tapi karena tempatnya sendiri enak didatangi. Pematang sawah, gubuk petani, sebatang pohon kluwek, dan satu tempat yang dinamai Peluk Pohon.

Rombongan berfoto di tepi jalan dengan hamparan sawah hijau dan pohon kelapa di belakangnya
Pematang sawah di tengah jalur. Ditandai karena pemandangannya, bukan karena ada yang tumbuh di sana.

Ada juga dua tempat yang ditandai sebagai bahaya, dan keduanya sama persis. Perlintasan kereta tanpa palang, di jalan yang biasa dilewati orang jalan kaki. Buat rombongan berikutnya, informasi itu jauh lebih berguna daripada tanaman mana pun di daftar tadi.

Kenapa dicatat, bukan cuma difoto

Foto perjalanan biasanya berhenti di galeri masing-masing. Yang ditandai di peta tinggal di jalurnya, dan masih ada di sana buat siapa pun yang lewat enam bulan lagi.

Setiap temuan flora diperiksa pengurus dulu sebelum tayang. Nama latinnya dicocokkan, tingkat kewaspadaannya ditetapkan. Kalau belakangan identifikasinya ternyata meragukan, entrinya ditarik lagi ke antrean, termasuk yang sudah terlanjur tayang.

Kedengarannya seperti kemunduran, padahal sebaliknya. Peta yang entrinya tidak pernah ditarik biasanya cuma berarti tidak ada yang pernah memeriksa ulang.

Kalau mau ikut

Tidak perlu tahu nama latin apa pun. Justru itu bagian yang dikerjakan pengurus. Yang paling menolong dari kamu cuma dua, foto yang jelas dan lokasi yang tepat. Ambil daunnya, batangnya, dan kalau ada bunga atau buahnya sekalian.

Tiga foto seadanya dari satu tumbuhan yang sama jauh lebih berguna daripada satu foto bagus yang diambil dari jauh.